Akibat Covid-19, Sri Mulyani: Saat Ini Dunia Tengah Hadapi Krisis Kemanusiaan  

  • Admin
  • 25 Maret 2020 - 09:30 WIB
Akibat Covid-19, Sri Mulyani: Saat Ini Dunia Tengah Hadapi Krisis Kemanusiaan  
Akibat Covid-19, Sri Mulyani: Saat Ini Dunia Tengah Hadapi Krisis Kemanusiaan.(Ist)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan saat ini dunia tengah menghadapi krisis kemanusiaan akibat penyebaran virus corona (Covid-19). Harapannya, krisis kemanusiaan ini tidak akan berdampak secara dalam terhadap ekonomi dan keuangan.

"Semua negara saat ini sedang berupaya supaya krisis bidang kesehatan dan kemanusiaan ini tidak menimbulkan spillover ke ekonomi," ujarnya melalui video conference, Selasa (24/03/2020).

Ia mengatakan beberapa negara telah melakukan kebijakan ekspansi fiskal dalam bentuk countercyclical atau kontra siklus dalam menangani masalah virus corona.

Sebagai contoh, Australia telah meluncurkan paket insentif fiskal sebesar 189 dolar Australia atau 10 persen dari PDB mereka untuk warga yang mengalami dampak langsung Covid-19. Selain itu, pemerintah AS akan menggelontorkan alokasi fiskal hingga lebih dari US$1 triliun, meskipun kebijakan ini belum mendapatkan lampu hijau dari senat.

Lalu, Jerman mengerek belanja pemerintah hingga 40 persen untuk memberikan stimulus kepada ekonomi. Dalam hal ini, Indonesia juga melakukan kebijakan serupa dari sisi fiskal.

Salah satunya dengan merealokasi dana senilai Rp62,3 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penanganan virus corona,

"Ini yang sedang diikhtiarkan seluruh negara agar krisis ini bisa dikejar. Oleh karena itu, respons seluruh negara menjadi penting kalau negara sendiri tidak bersatu dan gontok-gontokan itu akan memburuk," katanya.

Dalam kondisi ini, ia mengatakan negara yang tergabung dalam G20 akan meningkatkan komunikasi melalui saran virtual. Bahkan, lanjutnya, masing-masing negara tak ragu untuk membeberkan stimulus yang disiapkan.

"G20 mengusulkan pertemuan lebih sering untuk menghadapi situasi yang sangat dinamis sehingga ada kebijakan bersama yang koordinatif sehingga mengembalikan kepercayaan global," ucapnya. (CNNIndonesia)

Berita Terkait