Dua Grup Teater Tradisi Mop-mop Aceh Yang Hampir Punah Dipertunjukan Kembali

  • Admin
  • 25 Oktober 2020 - 16:20 WIB
Dua Grup Teater Tradisi Mop-mop Aceh Yang Hampir Punah Dipertunjukan Kembali
Dua Grup Teater Tradisi Mop-mop Aceh Tampil Di Banda Aceh. (Ist)

BANDA ACEH - Dua grup teater tradisi Mop-mop Aceh, cukup menarik perhatian masyarakat saat mereka tampil di Banda Aceh. Dua grup pertunjukan tersebut adalah Sanggar Meurak Jumpa Aceh dan Muara Batu Grup dari Aceh Utara. Kamis (22/10/2020) sore.

Pertunjukan mop-mop ini diinisiasi oleh Seniman Teater Aceh, T Zulfajri atau akrab disapa Tejo sebagai bahan penelitiannya, untuk pelestarian seni lakon yang yang diambang kepunahan tersebut.

"Kedua sanggar ini tampil memukau di dua lokasi panggung berbeda di pinggir Krueng Aceh dan Mengusung panggung outdor dengan latar alam, menjadi daya tarik tersendiri mengingat akhir-akhir ini jarang sekali pertunjukan yang dilakukan di alam terbuka," kata Tejo Minggu (25/10/2020)

Panggung outdor ini tentu menambah harmonisasi dalam desiran angin dan irama alam yang berpadu dengan gesekan biola dari syeh mop-mop.

Ia menambahkan, masyarakat yang hadir tampak cukup menikmati, sebab Mop-mop merupakan sebuah pertunjukan teater tradisi yang dikemas dengan jenaka, dilengkapi musik, dan seni tutur Aceh bergabung di dalamnya.

"Selain pertunjukan mop-mop, di salah satu lokasi panggung juga ada kegiatan masak-masak," ujarnya.

"Suasana ini mencerminkan bagaimana sistem gotong royong yang dibangun oleh masyarakat dahulu di mana hajatan dan hiburan saling bersandingan," tambah Tejo.

Tejo mengatakan, masyarakat sangat antusias dengan adanya pertunjukan mop-mop ini. Mulai dari anak-anak sampai orang tua terlihat begitu menikmati suguhan dari grup seni yang sudah sangat tua ini.

Salah satu masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tersebut Iskandar mengatakan, pertunjukan tersebut seperti mengembalikan memori masa kecilnya.

“Saya sudah lama nggak lihat lagi kesenian ini, terakhir saya nonton kalau nggak salah itu waktu saya masih kecil-kecil dulu di bawa sama ayah," kata Iskandar yang ikut hadir dalam kerumunan penonton saat itu.

Ia menambahkan, Keceriaan terpancar di wajah anak-anak yang ikut menonton pertunjukan ini. Meraka tak bisa menahan tawa menyaksikan lawakan-lawakan yang dibawakan oleh tokoh di atas panggung tersebut. Meskipun para pemainnya sudah berusia di atas enam pulah tahun, tapi masih begitu lihai memainkan gerak, syair, dan aksi-aksi komedi di atas panggung.

"Kekayaan kompenen ini (musik, tari, syair, teater) ini menjadikan pertunjukan ini begitu unik dan menarik untuk di tonton," ungkapnya.

Tejo menjelaskan, Mop-mop ini merupakan kesenian yang populer di era 60-an hingga 80-an, berkembang di wilayah Pidie, Bireun, dan Aceh utara. Sekarang kesenian ini bisa dikatakan sudah di ambang kepunahan.

"Saya mengharapkan kedepannya pertunjukan mop-mop ini akan menjadi salah satu kesenian yang diprioritas oleh pemerintah dan masyarakat Aceh untuk dilestarikan, sehingga akan memperkaya khazanah kesenian Aceh kembali di masa yang akan datang," pungkas Tejo. (fh/H)

Berita Terkait