Mop-mop Seni Khas Aceh yang Hampir Punah Dipertunjukkan Kembali

  • Admin
  • 20 Oktober 2020 - 15:40 WIB
Mop-mop Seni Khas Aceh yang Hampir Punah Dipertunjukkan Kembali
Mop-mop Seni Khas Aceh yang Hampir Punah Dipertunjukkan Kembali. (Ist)

BANDA ACEH - Seniman teater T. Zulfajri akrab disapa Tejo meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh “Mop mop”. Fokus penelitian dilakukan di Kabupetan Aceh Utara dan Bireuen, tujuannya, untuk pelestarian seni lakon yang hampir punah.

Dalam kesempatan tersebut, Tejo mengatakan, mop-mop atau biola Aceh merupakan seni pertunjukan tradisi Aceh yang dimainkan oleh tiga orang, menampilkan bermacam kisah seputar persoalam keluarga, dengan gaya kocak dan beda dengan seni pertunjukan lainnya yang ada di Indonesia.

"Disebagaian wilayah lain di Aceh kesenian ini memiliki sebutan yang berbeda yaitu, Biola Aceh atau Apa Raoh. Seorang pemain memerankan sosok ayah, sekaligus sebagai syech, juga bertugas mengatur mengontrol alur cerita sambil memainkan biola dan dua orang lain berperan sebagai dara baro dan linto baro (pengantin baru)," kata Tejo, Selasa (20/10/2020).

Dia menambahkan, keunikan mop-mop tersebut, melibatkan banyak unsur seni yang harus dipahami seluruh pemain, seperti syair aceh, pantun, hiem, gerak tari, musik dan lainnya. Semuanya dipadukan dalam satu pertunjukan.

“Generasi saat ini tidak ada lagi yang tahu tentang Mop-mop, beda dengan sandiwara Aceh atau Dalupa yang sebagian kecil masih diketahui, walau memang sudah benar-benar tidak ada lagi komunitasnya. Jadi ini yang akan kita orbit ke permukaan agar masyarakat paham,” ujarnya.

Tejo menyampaikan, menurut sejarahnya, belum diketahui pasti kapan awal muncul Mop-mop, namun dipastikan sudah ada sebelum Indonesia merdeka, kemudian jaya di era 60 hingga 80an. Pertunjukan ini biasa ditampilkan saat hari-hari besar, hajatan rakyat, pesta pernikahan, bahkan juga ditampilkan di lokasi pasar rakyat dan lain.

"Kemudian seni ini mulai meredup seiring masuknya teknologi hiburan ke tengah-tengah masyarakat Aceh, seperti televsi, radio dan yang banyak menampilkan seni peran secara praktis kepada masyarakat," imbuhnya.

Menurut lulusan S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta tersebut, penelitian yang didukung oleh Kemendikbud RI ini dilakukan di beberapa tempat di Aceh Utara, yaitu di Gampong Paloh Raya dan Gampong Kambam d Kecamatan Muara Batu, karena disana masih tersisa denyut seni Mop-mop. Kemudian dilakukan juga di Bireuen, tepatnya di Gampong Matang Pasie, Kecamatan Peudada.

“Penelitian ini nantinya akan melahirkan semacam buku panduan dan dokumentasi pertunjukan khas ini. Kemudian menjadi referensi dan informasi seni Mop-mop secara detail, terutama bagi generasi muda, mahasiswa dan pelajar yang perhatian terhadap seni Aceh,” kata seniman yang juga alumni UIN Ar-raniry itu.

"Pemerintah dan para pemangku kebijakan serta masyarakat tidak lupa dengan seni tradisi seperti ini, karena Mop-mop merupakan aset seni yang harus dimunculkan kembali, sebagai identitas seni pertunjukan khas masyarakat Aceh di pesisir pantai timur," harapnya. (h)

Berita Terkait